^INI SEMUA UNTUK MENYENANGKAN HATI NABI MUHAMMAD SAW^;

Wednesday, 6 July 2011

Biografi Kanjeng Sunan Muria


ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.n

Referensi :

Biografi Kanjeng Sunan Gunung Jati - Cirebon


Syech Syarief Hidayatulloh dilahirkan Tahun 1448 Masehi. Ayahanda Syech Syarief Hidayatulloh adalah Syarief Abdullah, seorang dari Mesir keturunan ke 17 Rosulullah SAW, bergelar Sultan Maulana Muhamad, Ibunda Syech Syarief Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang dan setelah masuk Islam berganti nama menjadi Syarifah Muda’im adalah Putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjajaran. Syech Syarief Hidayatullah berkelana untuk belajar Agama Islam dan sampai di Cirebon pada tahun 1470 Masehi.


Syech Syarief Hidayatullah dengan didukung uwanya, Tumenggung Cerbon Sri Manggana Cakrabuana alias Pangeran Walangsungsang dan didukung Kerajaan Demak, dinobatkan menjadi Raja Cerbon dengan gelar Maulana Jati pada tahun 1479.

Adab Anak-Anak Kepada Ayah Bundanya

Bermula telah tersebut didalam Qur’an perintah Allah ta’ala membuat ibadah kepada-Nya dan membuat kebajikan kepada ayah bundanya dengan firman Allah ta’ala : “wa’budulloha walaatusyriku bihii syaiian wabil walidaini ihsaanaa”. Artinya : sembahlah oleh kamu kepada Allah ta’ala dan jangan kamu meyekutui Allah ta’ala akan sesuatu dan pada ayah bunda kamu membuat kebajikan adanya. Maka dari ini dalil Qur’an diketahui akan wajib membuat kebajikan kepada ayah bunda dengan perintah-Nya Allah ta’ala atas yang demikian itu.